REALISTIS TAPI BERPENGHARAPAN
Mazmur 121
Kehidupan di dunia ini sering diibaratkan sebagai sebuah perjalanan yang penuh tantangan dan bahaya. Ini bukanlah pandangan yang pesimistis, melainkan realistis, karena demikianlah kenyataan hidup ini.
Ketika umat Israel hendak beribadah di Yerusalem, mereka harus melakukan pendakian, sebab Yerusalem terletak di atas bukit. Gunung atau bukit merupakan tempat yang berbahaya, karena terdapat tebing-tebing curam dan gua-gua yang dapat dijadikan tempat persembunyian para perampok. Seperti yang dikisahkan Yesus melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:30–35. Ketika memandang gunung-gunung itu, para peziarah menyadari semua kemungkinan bahaya tersebut dan bertanya, “Siapakah penolong yang dapat diandalkan?” Jawabnya: Allah-lah satusatunya penolong yang dapat diandalkan. Ia adalah penjaga dan pelindung yang tak pernah lengah ataupun tertidur. Ia yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang penuh kuasa, dan kuasa-Nya mengatasi segala bahaya serta ancaman yang mungkin dihadapi umat.
Kita hidup di dunia yang penuh bahaya, tetapi kita juga diingatkan bahwa kita bersama dengan Allah, Sang Pencipta langit dan bumi, Juruselamat, Penjaga, dan Pelindung kita. Kuasa-Nya mengatasi dan melampaui segala bahaya dan tantangan yang ada di dunia ini. Mari jalani kehidupan ini bukan dengan ketakutan, melainkan dengan pengharapan kepada-Nya. (Wasiat)
DOA: Dalam kehidupan yang penuh bahaya dan tantangan ini, kami sungguh mau bersandar dan berharap kepada-Mu, ya Allah. Sebab kuasa-Mu jauh melampaui segala sesuatu di dunia ini. Amin.